Israel berencana merekrut sekitar 70.000 pekerja asing asal Tiongkok, India, Sri Lanka dan sejumlah negara Asia lainnya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan tata kota yang hancur akibat gempuran perang. “Israel tengah meningkatkan kuota pekerja konstruksi asing menjadi 70.000 dari sebelumnya hanya 50.000 yang akan disetujui oleh pemerintah dalam beberapa hari mendatang,” jelas Yehuda Morgenstern, direktur jenderal Kementerian Konstruksi dan Perumahan Israel. Menurut pengumuman yang dikutip dari Alarabiya, ribuan buruh asing ini direkrut pasca pemerintah Israel melarang 80.000 pekerja konstruksi Palestina memasuki Israel buntut serangan Hamas terhadap Israel.

Larangan ini awalnya diberlakukan sebagai sanksi atas tindakan yang dilakukan Hamas, namun imbas larangan tersebut pembangunan di kawasan perkotaan terhambat di tengah banyaknya infrastruktur yang hancur akibat gempuran perang. “Ada kekurangan di sektor tenaga kerja. Itu sebabnya kecepatan konstruksi per bangunan di Israel meningkat menjadi 34 bulan dari 30 bulan pada tahun 2021 dan 27 bulan pada tahun 2014,” kata Morgenstern. Alasan itu yang kemudian mendorong pemerintah Israel untuk melakukan perekrutan buruh asing. Sayangnya rekruitmen ini dilakukan tanpa menyertakan perjanjian bilateral dengan negara asal alias ilegal.

Pria Pergoki Kekasihnya dengan Pria Lain di Kamar Tidur, Si Wanita Ngotot Tak Lakukan Apapun 'HANCUR' Pilu Nana Mirdad, Bayi Baru Lahir Dibuang Dekat Rumahnya, Tanpa Kain, Tubuh Sudah Membiru El Shaarawy Sebut Mourinho Biang Kerok di AS Roma, Singgung De Rossi Sebagai Pemimpin di Liga Italia

KISAH Wanita Tinggal Bersama Suami dan Mantannya, Hidup Akur: Saya akan Merawatnya Sampai Saya Mati Kunci Jawaban Matematika Kelas 11 Halaman 82 83 84 Kurikulum Merdeka: Ayo Mengingat Kembali, Bab 3 Halaman all Usia Sudah 35 Tahun, tapi Sommer Yakin Bisa Bawa Inter Milan Scudetto

Imsam Gelar Saweu Sikula di Samalanga dan Simpang Mamplam Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 126 127 Semester 2: Pertanyaan Telaah Halaman 3 Pemerintah Israel belum memberikan komentar apapun terkait rekrutmen ilegal ini, namun dari informasi yang beredar perekrutan buruh ilegal dilakukan Israel untuk menekan pengeluaran negara di tengah gejolak perang.

Mengingat selama dua bulan terakhir kondisi ekonomi Tel Aviv dilaporkan goyah hingga utang Israel mendekati 8 miliar dolar AS imbas bengkaknya biaya operasi perang di Gaza. Tak hanya itu serangan yang dilakukan tentara Israel juga memicu aksi boikot sejumlah negara hingga membuat sektor bisnis Israel berhenti beroperasi. Direktur Jenderal Pelabuhan Eilat mengatakan, bahwa delapan puluh persen pendapatan pelabuhan telah menurun usai biaya pengiriman impor ekspor melonjak akibat Yaman melarang kapal menyeberang ke Israel.

Tekanan ini yang menyebabkan Israel merugi hingga sepuluh setengah miliar shekel, atau sekitar 3 miliar dolar AS akibat terputusnya jalur Laut Merah dan Laut Arab. “Houthi Yaman mengancam semua kapal yang menuju ke Israel, apapun kewarganegaraannya, akibatnya mereka harus mengubah rute navigasi maritim hal ini akan berdampak pada kenaikan harga produk impor sekitar 3 persen, yang akan menambah beban keuangan Israel,” jelas Eilat.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *